• Home
  • Disclaimer
  • Contact
  • About
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Putri Anggraini

BELAJAR HIDUP MANDIRI

 BERIMAN, BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, DAN BERAKHLAK MULIA

BY: PUTRI ANGGRAINI


Nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia merupakan landasan yang menuntun 









Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 BERIMAN, BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, DAN BERAKHLAK MULIA

BY: PUTRI ANGGRAINI





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 CONTENT CREATOR

BY: PUTRI ANGGRAINI


1. PENGERTIAN CONTEN CREATOR
     Conten creator Adalah profesi dengan 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 





PERANGKAT PEMBELAJARAN

(Silabus, RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi)

 

Bismillahirrahmanirrahim…. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Apa kabar sahabat bloger, alhamdulillah pada kesempatan kali ini, saya masih bisa menyapa sahabat sekalian walapun hanya melalui blog. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan mengenai Perangkat Pembelajaran (Silabus, RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi), yang mana ini sebagai tugas dari mata kuliah Magang 1.

 

Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran adalah kumpulan alat (bantu) yang digunakan guru agar kegiatan dan kinerja guru lebih maksimal dalam aktivitas pembelajaran, perangkat ini terdiri dari media, fasilitas, bahan dan panduan dsb.

perangkat pembelajaran adalah instrumen atau perlengkapan untuk melakukan kegiatan mendidik siswa. Perangkat pembelajaran merupakan pedoman guru untuk aktivitas pembelajaran, baik itu di dalam kelas, luar kelas dan laboratorium. Ini berdasarkan penuturan Zuhdan, (2012: 17).

Terdapat beberapa perangkat pembelajaran yang bisa disiapkan agar pembelajaran bisa terlaksana dengan maksimal. Berikut daftarnya:

1.    Silabus

Silabus adalah rencana detail mengenai susunan atau urutan mengajar guru yang dibuat dalam kategori tema atau mata pelajaran tertentu. Elemen dari silabus sendiri terdiri dari Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Raihan Kompetensi, Materi/Konten Pembelajaran, Kuota Waktu, Penilaian serta Sumber Belajar yang dipakai. Silabus juga bisa disebut sebagai rangkuman dari kurikulum sebab silabus terdiri dari media, target pencapaian dsb.

Elemen rinci silabus terdiri dari:

a)      Batasan dan misi materi pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik.

b)      Tujuan dan Sasaran dari suatu materi pembelajaran.

c)      Keterampilan yang harus diraih oleh siswa pada setiap mata pelajaran yang disajikan.

d)      Rancangan poin konsep materi yang diberikan kepada siswa.

e)      Kegiatan dan referensi belajar yang menjadi penyokong kesuksesan dalam aktivitas pembelajaran.

f)       Cara evaluasi yang dipakai dalam pembelajaran.

2.    RPP

Adalah merupakan singkatan dari rencana pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah tahapan yang kudu dilalui oleh guru pada aktivitas pembelajaran kepada siswa. RPP terdiri atas metode, model, instrumen penilaian, pelaksanaan dan evaluasi. Ini adalah elemen yang terkandung pada RPP:

a)      Indikator/parameter pembelajaran

b)      Kompetensi dasar (KD) dan Standar kompetensi (SK)

c)      Skenario Pembelajaran

d)      Model Pembelajaran

e)      LKS Lembar Kerja Siswa

f)       Pokok pembahasan

g)      Pengukuran Hasil Belajar

h)      Sumber dan sarana/media/fasilitas dan Pembelajaran

3.    Media Pembelajaran

Media berfungsi untuk menghubungkan informasi dari satu pihak ke pihak lain. Sedangkan dalam dunia pendidikan kata media disebut media pembelajaran. Media Pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa untuk belajar. Lebih lanjut, Gagne dan Briggs (1975) dalam Arsyad (2013:4) secara eksplisit mengatakan bahwa media pembelajaran mencakup alat-alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi bahan ajar. Dari kedua pengertian tersebut, media merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran.

Alat ini dapat berupa alat grafik, visual, elektronik dan audio yang digunakan untuk mempermudah informasi yang disampaikan kepada siswa. Berdasarkan definisi atau pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk menyampaikan pesan, ide atau gagasan berupa bahan ajar kepada siswa oleh guru. Media pembelajaran dapat digunakan untuk menciptakan kondisi belajar yang nyata. Dengan menggunakan media pembelajaran, pesan yang abstrak dapat diubah menjadi pesan yang beton. Misalnya, guru menyampaikan pesan tentang teknik membaca scanning, ketika guru hanya menjelaskan maka siswa akan kesulitan memahami teknik membaca scan.

Prinsip-Prinsip Pengembangan Media

Prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah:

a)      Memotivasi siswa dalam belajar,

b)      Memahami perbedaan individu,

c)      Sesuai dengan tujuan pelajaran,

d)      Isi yang terorganisasi,

e)      Ketersediaan siswa dalam belajar,

f)       Menumbuhkan emosi siswa,

g)      Menumbuhkan partisipasi siswa,

h)      Memberikan Umpan balik,

i)       Penguatan,

j)       Latihan dan Latihan,

k)      Penerapan.

4.    Bahan Ajar

Dari beberapa sumber buku menyatakan bahwa bahan ajar merupakan suatu bahan/ materi pelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Jenis-Jenis Bahan Ajar Dalam pengelompokannya bahan ajar dibagi menjadi 5 jenis kelompok besar:

a)      Bahan ajar yang tidak diproyeksikan seperti foto, diagram, display, model;

b)      Bahan ajar yang diproyeksikan, seperti slide, filmstrips, overhead transparencies, proyeksi komputer;

c)      Bahan ajar audio, seperti kaset dan compact disc;

d)      Bahan ajar video, seperti video dan film;

e)      Bahan ajar (media) komputer, misalnya Computer Mediated Instruction (CMI), Computer based Multimedia atau Hypermedia.

5.    LKS

lembar kerja siswa (LKS) adalah merupakan salah satu media pendidikan (media cetak) dengan tujuan untuk mengaktifkan siswa, memungkinkan siswa dapat belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya, merangsang kegiatan belajar dan juga merupakan variasi pengajaran agar siswa tidak menjadi bosan. LKS yang digunakan siswa harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dikerjakan siswa dengan baik dan dapat memotivasi belajar siswa. Menurut Tim Penatar Provinsi Dati I Jawa Tengah,hal-hal yang diperlukan dalam penyususunan LKS adalah

a)      Buku pegangan, siswa (buku paket),

b)      Mengutamakan bahan yang penting,

c)      Menyesuaikan tingkat kematangan berfikir siswa.

Manfaat dan Tujuan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Menurut tim instruktur PKG dalam Sudiati (2003:11-12), manfaat Lembar Kerja Siswa (LKS), antara lain sebagai alternatif guruuntuk mengarahkan atau memperkenalkan suatu kegiatan tertentu, dapat mempercepat proses belajar mengajar sehingga menghemat waktu mengajar, serta dapat mengoptimalkan alat bantu pengajaran yang

terbatas karena siswa dapat menggunakan alat bantu secara bergantian.

LKS biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya.(Depdiknas; 2004;18). Trianto (2008 :148) mendefinisikan bahwa Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah.

Menurut pengertian di atas maka LKS berwujud lembaran berisi tugas-tugas guru kepada siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Atau dapat dikatakan juga bahwa LKS adalah panduan kerja siswa untuk mempermudah siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Tujuan Lembar Kerja Siswa (LKS)

a)      Mengaktifkan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran.

b)      Membantu siswa  mengembangkan konsep.

c)      Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan ketrampilan proses.

d)       Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses kegiatan pembelajaran.

e)      Membantu siswa dalam memperoleh informasi tentang konsep yang dipelajari melalui proses kegiatan pembelajaran secara sistematis.

f)       Membantu siswa dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari melalui kegiatan pembelajaran (Achmadi:1996:35)

Kegunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)

a)      Memberikan pengalaman kongkret bagi siswa.

b)      Membantu variasi belajar.

c)      Membangkitkan minat siswa.

d)      Meningkatkan retensi belajar mengajar.

e)      Memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien (Hadi Sukamto, 1992/1993:2)

6.    Perangkat Evaluasi

Menurut Kunandar (2014: 35) bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik”. Penilaian hasil belajar peserta didik merupakan sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan penilaian hasil belajar maka dapat diketahui seberapa besar keberhasilan peserta didik telah menguasai kompetensi atau materi yang telah diajarkan oleh guru. Kurikulum 2013 mempertegas adanya pergeseran dalam melakukan penilaian melalui tes (mengukur kompetensi kemampuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian autentik (mengukur penilaian sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil). Dalam penelitian ini, penilaian sikap diambil pada saat proses belajar mengajar, penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan diambil setelah mengerjakan LAS yang diberikan oleh guru.

mengenai pengembangan evaluasi pembelajaran dalam struktur Kurikulum 2013 revisi menjadi poin penting untuk dikuasai oleh pendidik. Idealitas cita-cita Kurikulum 2013 harus diiringi pula dengan kesiapan pendidik dalam melakukan penilaian terhadap proses belajar peserta didiknya, baik dari aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Melalui pemahaman serta penguasaan yang baik terhadap evaluasi ketiga aspek tersebut, maka penilaian pembelajaran akan dapat senantiasa diupgrade dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan dalam konteks Kurikulum 2013. Tulisan ini hendak membingkai wacana pengembangan evaluasi pembelajaran PAI pada dimensi perangkat ajar yang digunakan, sehingga fungsi pendidikan dalam menilai ketercapaian proses belajar peserta didiknya dapat dilaksanakan secara maksimal. Oleh karena itu, artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan guna mengurai fokus tersebut. Sedangkan analisa data digunakan metode content analysis dan intepretasi. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengembangan perangkat evaluasi pembelajaran PAI dalam konteks Kurikulum 2013 dapat dilakukan secara sinergis dengan memanfaatkan aplikasi berbasis teknologi informasi (IT). Melalui pemanfaatan aplikasi berbasis IT dalam segi teknis-implementatif penilaian pembelajaran PAI, maka pendidik dapat mengevaluasi domain kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik secara integral, komprehensif dan maksimal.

 

Nah, itulah penjelasan mengenai Perangkat Pembelajaran (Silabus, RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi) yang dapat saya sampaikan melalui blog  ini. Sekian dari saya, saya ucapkan terima kasih banyak sudah mengunjungi blogg ini, sampai bertemu di blogg saya selanjutnya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 




SISTEM EVALUASI


Putri Anggraini
11901135
PAI 4F

MAGANG 1

 

SISTEM EVALUASI

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, apa kabar sahabat blogger, semoga selalu dalam keadaan baik-baik aja ya, apalagi di masa sekarang ini, kita harus menjaga kesehatan dan stamina kita.

Baiklah, pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan hasil dari bahan bacaan mengenai Sistem Evaluasi. Apa-apa saja yang ada dan yang berkaitan dengan sistem evaluasi. Nah untuk itu, saya akan menjelaskan hasil bacaan saya di blog saya kali ni.

Baik, tanpa menunggu waktu yang lama, yuk simak dan baca blog saya di bawah ini :

 

 

Pengertian Sistem Pendidikan

Evaluasi merupakan proses yang harus dilaksanakan untuk mengetahui tingkat target pencapaian kinerja maupun dalam upaya peningkatan mutu suatu organisasi. Sekolah sebagai suatu organisasi juga perlu melaksanakan suatu sistem evaluasi. Dengan tujuan mengetahui tingkat pencapaian kinerja sekolah yang nantinya akan digunakan dalam proses perencanaan sekolah dan siklus pengembangan mutu sekolah. Evaluasi dalam pendidikan terjadi proses belajar mengajar yang sistematis, yangterdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak bersifat terpisah atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung dan berkesinambungan. Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan sistem dapat diartikan sebagai sekumpulan elemen yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama.

 

Beberapa Istilah Evaluasi Pendidikan

Tes, adalah istilah yang paling sempit pengertiannya dari keempat istilah lainnya, yaitu membuat dan mengajukan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab. Sebagai hasil jawabannya diperoleh sebuah ukuran (nilai angka) dari seseorang.

Pengukuran, pengertiannya menjadi lebih luas, yakni dengan menggunakan observasi skala rating atau alat lain yang membuat kita dapat memperoleh informasi dalam bentuk kuantitas. Juga berarti pengukuran dengan berdasarkan pada skor yang diperoleh.

Evaluasi, adalah proses penggambaran dan penyempurnaan informasi yang berguna untuk menetapkan alternatif. Evaluasi bisa mencakup arti tes dan pengukuran dan bisa juga berarti di luar keduanya. Hasil Evaluasi bisa memberi keputusan yang profesional. Seseorang dapat mengevaluasi baik dengan data kuantitatif maupun kualitatif.

Asesmen, bisa digunakan untuk memberikan diagnosa terhadap problema seseorang. Dalam pengertian ia adalah sinonim dengan evaluasi. Namun yang perlu ditekankan di sini bahwa yang dapat dinilai atau dievaluasi adalah karakter dari seseorang, termasuk kemampuan akademik, kejujuran, kemampuan untuk mengejar, dsb.

Nah adapaun Kedudukan Evaluasi Dalam Pembelajaran, yakni dapat merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat 1 yang menyatakan bahwa “evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak berkepentingan, di antaranya terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan”.

Sehingga kedudukan evaluasi pendidikan mencakup semua komponen, proses pelaksanaan dan produk pendidikan secara total, dan di dalamnya setidaknya terakomodir tiga konsep, yakni: memberikan pertimbangan (judgement), nilai (value), dan arti (worth).

 

Tujuan Evaluasi Pembelajaran

Adapun tujuan Evaluasi Pembelajaran menurut  Nana Sudjana (2017, hlm. 4) adalah sebagai berikut.

1)      Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.

2)      Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.

3)      Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.

4)      Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Prinsip Evaluasi

Dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan pasal 5, dijelaskan bahwa prinsip evaluasi atau penilaian hasil belajar antara lain adalah sebagai berikut.

 

1)      Sahih, yang berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.

2)      Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.

3)      Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.

4)      Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.

5)      Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.

6)      Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik.

7)      Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.

8)      Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

9)      Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segimekanisme, prosedur, teknik, teknik, maupun hasilnya.

Jenis Evaluasi dalam Pembelajaran

Membicarakan jenis evaluasi sebetulnya sangatlah bergantung dari pembeda atau dikotomi apa yang digunakan dalam membedakan jenisnya. Namun, pada umumnya evaluasi dalam pembelajaran biasa dibagi dari segi teknik terlebih dahulu. Kemudian, masing-masing teknik akan memiliki penilaian dan alat penilaian yang berbeda pula. Menurut (Arikunto, 2016, hlm. 41) Teknik evaluasi dibagi menjadi dua, yakni teknik tes dan teknik non-tes. Berikut adalah penjelasannya.

1.      Evaluasi Tes

Tes merupakan suatu alat pengumpul informasi, tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasanbatasan. Tes mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk mengukur peserta didik dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran.

Menurut Heaton (dalam Arifin, 2017, hlm. 118) membagi tes menjadi empat bagian, yakni tes prestasi belajar, tes penguasaan, tes bakat, dan tes diagnostik. Untuk melengkapi pembagian jenis tes tersebut, Brown menambahkan satu jenis tes lagi yang disebut tes penempatan. Masing-masing penjelasan mengenai jenis tes tersebut sama saja dengan penjelasan fungsi evaluasi yang telah dijelaskan sebelumnya di atas. Evaluasi jenis tes sendiri dapat dibagi setidaknya menjadi dua jenis, yakni: tes uraian (esai), dan tes objektif. Berikut adalah pemaparannya.

a)      Tes Bentuk Uraian (Esai). Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik untuk menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya sendiri dalam bentuk, teknik, dan gaya yang berbeda satu dengan lainnya. Dilihat dari luas atau sempitnya materi yang dinyatakan, bentuk tes uraian dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni sebagai berikut.

b)      Uraian Terbatas. Dalam menjawab soal bentuk uraian terbatas ini, peserta didik harus mengemukakan hal-hal tertentu sebagai batas-batasnya. Walaupun kalimat jawaban peserta didik itu beraneka ragam, tetap harus ada pokok-pokok penting yang terdapat dalam sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan dikehendaki dalam soalnya.

c)      Uraian Bebas. Peserta didik bebas untuk menjawab soal dengan cara dan sistematika sendiri. Peserta didik bebas mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, setiap peserta didik mempunyai cara dan sistematika yang berbeda-beda. Namun, guru tetap harus mempunyai acuan dan patokan dalam mengoreksi jawaban peserta didik nanti.\

d)      Tes Objektif. Tes objektif adalah pengukuran yang berdasarkan pada penilaian atas kemampuan siswa dengan soal menjelaskan jawaban yang benar atau yang salah soal dengan bobot nilai yang tetap. Dalam tes ini subjektivitas guru ketika melakukan pemberian nilai tidak ikut ambil bagian atau ikut berpengaruh. Terdapat beragam macam tes objektif meliputi beberapa jenis di bawah ini.

e)      Tes Pilihan Alternatif. Bentuk tes pilihan alternatif ditandai oleh butir soal yang diikuti oleh dua penilaian. Dari dua pilihan siswa diminta memilih salah satu yang dianggap paling tepat.

f)       Tes Pilihan Ganda. Tes jenis pilihan ganda adalah suatu bentuk tes dengan jawaban tersedia atas 3 atau 4 serta option pilihannya dan hanya satu jawaban yang tepat.

g)      Tes Objektif Menjodohkan. Soal bentuk menjodohkan atau memasangkan terdiri dari suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban, dan suatu petunjuk untuk menjodohkan masing-masing premis itu dengan suatu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan sejenisnya digunakan sebagai premis.

h)      Tes Bentuk Benar atau Salah. Benar Tes benar salah ditekankan mengandung atau tidaknya kebenaran dalam pernyataan yang hendak dinilai peserta didik. Peseta didik menjawab dengan menetapkan apakah pernyataan yang disajikan itu salah atau benar dalam arti mengandung atau tidak mengandung kebenaran.

2.      Evaluasi Non Tes

Menurut Hasyim (dalam Zein & Darto, 2012, hlm.47) evaluasi non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan peserta didik secara langsung dengan tugas-tugas yang riil. Evaluasi non tes memiliki sifat yang lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik, yang dinilai saat proses pelajaran berlangsung (Sudjana. 2017, hlm. 67). Beberapa jenis evaluasi non tes menurut Arikunto (2016, hlm. 41) adalah sebagai berikut.

a)      Skala Bertingkat. Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan “Rating gives a numerical value to some kind of judgement” maka suatu skala selalu disajikan dalam bentuk angka.

b)      Angket. Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Angket merupakan instrumen evaluasi nontes yang berupaya mengukur diranah afektif di dalam kelas maupun diluar kelas.

c)      Daftar Cocok. Yakni deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok (√ ) ditempat yang sudah disediakan.

d)      Wawancara. Merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan cara tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan.

e)      Pengamatan atau Observasi. Pengamatan atau observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan indra secara langsung. Pengamatan atau observasi merupaka suatu kegiatan yang dilakukan untuk melihat sejauh mana pelaksanaan suatu tindakan telah dilaksanakan dan untuk mengevaluasi ketepatan tindakan yang dilakukan. Pengamatan dilakukan dengan cara menggunakan instrumen (formulir) yang sudah dirancang sebelumnya.

Nah, itulah penjelasan mengenai Sistem Evaluasi yang dapat saya sampaikan melalui blog  ini. Sekian dari saya, saya ucapkan terima kasih banyak sudah mengunjungi blogg ini, sampai bertemu di blogg saya selanjutnya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 



PUTRI ANGGRAINI

11901135

PAI 4F

MATA KULIAH MAGANG 1

STRATEGI PEMBELAJARAN



Bismillahirrahmanirrahim…. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Apa kabar sahabat bloger, alhamdulillah pada kesempatan kali ini, saya masih bisa menyapa sahabat sekalian walapun hanya melalui blog ini. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan mengenai Strategi Pembelajaran, yang mana salah satu tugas dari mata kuliah Magang 1.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan apa-apa saja yang ada pada Strategi Pembelajaran. Nah tanpa menunggu lama-lama, yuk simak penjelasannya berikut ini 


Pengertian Pembelajaran

            Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lengkungan belajar (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Intinya adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para peserta didiknya. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika peserta didik belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar (BSNP, 2006). Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik (student centred). Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

            Strategi identik dengan teknik, siasat atau kiat, namun apabila digabungkan dengan kata pembelajaran (strategi pembelajaran) dapat dipahami sebagai suatu cara atau seperangkat cara atau teknik yang dilakukan oleh seorang guru atau peserta didik dalam mengupayakan terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap. Oleh karena itu, strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp, 1995).

            Strategi pembelajaran adalah pendekatan suatu individu atau kelompok untuk menyelesaikan tugas (masalah). Lebih khusus, strategi pembelajaran adalah cara individu atau lembaga pendidikan untuk mengorganisir dan menggunakan beberapa alat  metode, taktik, model dan keterampilan tertentu untuk mempelajari konten lalu menyelesaikan daftar tugas yang ada, secara efektif dan efisien di sekolah serta di lingkungan non-akademik. Jadi strategi pembelajaran adalah sebuah ide dan rencana yang berisi susunan aktivitas belajar guru dan siswa yang diimplementasikan berdasarkan kompetensi yang sudah ditetapkan untuk memperoleh tujuan pendidikan.  Berikut ini adalah aplikasi strategi pembelajaran yang mencakup empat aspek, yaitu sebagai berikut:

a)      Urutan kegiatan pembelajaran, yang berisikan urutan kegiatan guru dalam menyampaikan materi atau isi pelajaran kepada peserta didik.

b)      Metode pembelajaran, yaitu cara guru mengorganisasikan materi pelajaran dan peserta didik agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien.

c)      Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan guru dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

d)      Waktu yang digunakan guru dan peserta didik untuk menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.

            Dalam realitasnya, pembelajaran di sekolah masih banyak guru yang menggunakan strategi pembelajaran untuk menghabiskan materi pembelajaran sehingga kurang memberi makna bagi peserta didik. Oleh karena itu, agar aktivitas pembelajaran mampu memberikan makna bagi peserta didik yang belajar, guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan peserta didik sehari-hari.  

Akhirnya, pentingnya strategi pembelajaran adalah untuk menentukan semua langkah dan kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga dapat memberi pengalaman belajar kepada peserta didik. Jadi strategi pembelajaran adalah keputusan guru dalam menetapkan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, sarana dan prasarana yang akan digunakan, termasuk jenis media yang digunakan, materi yang diberikan, dan metodologi yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Diharapkan peserta didik dapat mendapatkan pengalaman yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, strategi pembelajaran adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh guru (seperti metode, sarana dan prasarana, materi, media, dan sebagainya) agar peserta didik difasilitasi (dipermudah) dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.  

Komponen Strategi Pembelajaran

            Strategi pembelajaran terdiri dari lima komponen utama, yaitu: (a) urutan kegiatan pembelajaran, (b) metode, (c) media, dan (d) waktu (Suparman, 2004). Sedangkan urutan kegiatan pembelajaran secara umum terdiri dari tahap, yaitu:

a)      Pendahuluan (introduction)

Pada tahap awal atau persiapan, kegiatan dimaksudkan untuk mempersiapkan mental peserta didik dalam mempelajari pengetahuan, keterampilan dan sikap baru. Artinya guru sebaiknya mempersiapkan peserta didik agar memperhatikan dan belajar secara sungguh-sungguh selama tahap penyajian. Tujuan kegiatan pada tahap pendahuluan ini untuk:

1.      memberikan motivasi dan memusatkan perhatian peserta didik agar mereka bisa mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran dan

2.      mengetahui kemampuan peserta didik atau apa yang telah dikuasai peserta didik sebelumnya dan berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.

Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah memberikan gambaran singkat tentang isi pelajaran, menjelaskan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman peserta didik, dan menjelaskan tentang tujuan pembelajaran.

b)      Penyajian (presentation)

Tahap penyajian merupakan proses pembelajaran yang utama atau inti dari kegiatan pembelajaran. Tahap ini meliputi bagian-bagian sebagai  berikut:

1.      Uraian (explanation) adalah penjelasan tentang materi pelajaran atau konsep, prinsip, dan prosedur yang akan dipelajari.

2.      Contoh (example) dan non contoh (non example) adalah benda atau kegiatan yang ada di sekitar peserta didik sebagai wujud materi pelajaran yang sedang diuraikan, baik bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, guru perlu memberikan contoh dan non contoh yang praktis dan kongkrit dari uraian konsep yang masih abstrak agar menjadi jelas bagi peserta didik.

3.      Latihan (exercise) adalah kegiatan praktik bagi peserta didik untuk menerapkan konsep, prinsip atau prosedur yang masih abstrak sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Dengan latihan, peserta didik akan belajar aktif sehingga mudah menguasai materi yang sedang dipelajari peserta didik.

c)      Penutup (test and follow up)

Kegiatan pada tahap penutup merupakan kegiatan akhir dalam urutan kegiatan pembelajaran. Tujuan dari kegiatan tahap penutup adalah untuk memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan materi pelajaran yang telah diberikan, baik tes formatif dan umpan balik (follow up). Selanjutnya adalah kegiatan tidak lanjut. Kegiatan akhir pembelajaran yang mencakup:

1.      Pelaksanaan tes hasil belajar untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik. Tes ini sering disebut sebagai tes formatif yang dapat diberikan secara lisan atau tertulis.

2.      Umpan balik (feedback) adalah informasi hasil tes peserta didik dan diikuti dengan penjelasan kemajuan peserta didik. Hal ini penting bagi peserta didik agar proses pembelajaran menjadi efektif, efisien dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan umpan balik sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.

3.      Tindak lanjut (follow up) adalah berupa petunjuk tentang apa yang harus dilakukan peserta didik setelah mengikuti tes formatif dan mendapatkan umpan balik. Maksudnya peserta didik yang memperoleh hasil tes formatif kurang harus mempelajari ulang materi tersebut. Sedangkan peserta didik yang sudah memperoleh nilai baik tes formatif bisa meneruskan ke materi selanjutnya, baik untuk memperdalam materi atau untuk mempersiapkan materi yang akan datang. Namun, perlu diingat bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pemberian tanda atau bantuan

Strategi Pembelajaran Menurut Para Ahli

Agar bisa lebih paham tentang strategi pembelajaran, kami akan menghadirkan beberapa pengertian strategi pembelajaran dari para ahli, berikut beberapa pengertian, definisi dan artinya:

1)      Kemp (1995). Mengutarakan tentang strategi pembelajaran, yakni aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa untuk memenuhi misi pembelajaran yang efisien dan efektif.

2)      Egger Kauchak dan Harder. Strategi pembelajaran adalah macam-macam cara belajar dan mengajar yang dirancang untuk memenuhi sasaran yang spesifik.

3)      Gilistrap Martin. Mengungkapkan bahwa strategi pembelajaran adalah formula keterampilan yang digunakan guru untuk membantu siswa agar bisa memenuhi tujuan belajar yang telah ditetapkan.

4)      Syaiful Bahri dan Aswan Zain (1995). Beliau mengungkapkan bahwa sistem acuan yang mendasari aktivitas siswa ketika melaksanakan belajar mengajar agar bisa menuju tujuan yang sudah ditentukan.

5)      Sanjaya, Wina (2007). Merupakan format yang dapat diterapkan guru dan siswa dalam meraih aktivitas belajar dan mengajar yang ideal. Karakter dari format yang bisa dilakukan adalah semacam rangkaian aktivitas yang dapat berdampak pada tercapainya tujuan belajar.

6)      Kozma (Sanjaya, 2007). Merupakan sesuatu yang bisa memberi dampak kepada siswa untuk bisa memperoleh tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

7)      Suparman (1997:157). Adalah rangkaian aktivitas guru dan siswa untuk mengatur materi dan fasilitas yang dipakai, agar belajar mengajar bisa terpenuhi dan bisa meraih tujuan pembelajaran.

Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Berikut merupakan jenis dan macam strategi pembelajaran yang wajib diketahui oleh guru. Strategi ini dilandasi oleh penuturan Sanjaya (2007 : 177 – 286):

a)      Kontekstual CTL

b)      Berbasis Masalah

c)      Kooperatif

d)      Ekspositori

e)      Inquiry

f)       Afektif

g)      Peningkatan Kemampuan Berpikir

 Manfaat dan Tujuan

Manfaat dari strategi pembelajaran pada aktivitas belajar itu sendiri adalah, waktu siswa untuk meraih materi yang sesuai dengan standar kompetensi bisa menjadi lebih efisien. Dan yang paling penting adalah guru bisa mempunyai gambaran tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan saat kegiatan belajar.

Guru juga bisa lebih matang saat menghadapi siswa dengan latar belakang yang berbeda. Karena mau tidak mau setiap siswa pasti mempunyai kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari perbedaan ras, ekonomi, agama dan motivasi belajar. Hal tersebutlah yang mengharuskan guru bisa menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif.

 Implementasi atau Penerapan

Pada tahap awal guru harus bisa mempresentasikan dengan bagus mengenai tujuan pembelajaran. Ini bertujuan agar siswa bisa tertarik dan termotivasi.

Saat guru menerangkan tentang tujuan pembelajaran siswa didorong untuk memperhatikan agar hubungan antara pengetahuan lama dan baru bisa terkoneksi. Tingkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan, ajari mereka cara membaca dengan waktu yang singkat namun tetap nyantol. Mendengarkan dan partisipasi, kembangkan cara siswa dalam mendengar, serta minta siswa untuk berpartisipasi lebih dalam pembelajaran (aktif).

Berlandaskan teori student centered, bisa dikatakan bahwa siswa adalah pusat utama dari aktivitas belajar. Maka dari itu ajari siswa untuk mencatat yang efektif, di mana bisa digunakan untuk membantu teman dan diri sendiri dalam belajar. Pada proses edukasi biasanya terdapat aktivitas tanya jawab (feedback). Proses ini sering dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Berhubungan dengan memori & retensi, buat agar siswa bisa tetap termotivasi dalam pembelajaran sehingga ingatan mengenai materi bisa lebih kuat. Selanjutnya proses pelajaran tahap lanjut biasanya adalah melakukan kesimpulan dan evaluasi. Guru akan menginformasikan tentang cara menilai siswa.

Nah, itulah penjelasan mengenai Strategi Pembelajaran yang dapat saya sampaikan melalui blog  ini. Sekian dari saya, saya ucapkan terima kasih banyak sudah mengunjungi blogg ini, sampai bertemu di blogg saya selanjutnya. 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


 Referensi :

https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:ywFbMuDVBRIJ:https://www.tripven.com/strategi-pembelajaran/+&cd=20&hl=id&ct=clnk&gl=id

Warsita, Bambang. "STRATEGI PEMBELAJARAN DAN IMPLIKASINYA PADA PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN." Jurnal Teknodik 13.1 (2018): 064-076.




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

About Me

Perkenalkan nama saya Putri Anggraini, saya lahir di Pontianak, 20 september 1999.

Saya mempunyai 3 saudara laki-laki, satu abang dan dua adik laki-laki.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Copyright © 2019 Putri Anggraini | Template By ThemeXpose