BERIMAN, BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, DAN BERAKHLAK MULIA
BY: PUTRI ANGGRAINI
Nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia merupakan landasan yang menuntun
BELAJAR HIDUP MANDIRI
BERIMAN, BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, DAN BERAKHLAK MULIA
BY: PUTRI ANGGRAINI
Nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia merupakan landasan yang menuntun
BERIMAN, BERTAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, DAN BERAKHLAK MULIA
BY: PUTRI ANGGRAINI
PERANGKAT PEMBELAJARAN
(Silabus,
RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi)
Bismillahirrahmanirrahim….
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Apa kabar sahabat bloger,
alhamdulillah pada kesempatan kali ini, saya masih bisa menyapa sahabat
sekalian walapun hanya melalui blog. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan
menjelaskan mengenai Perangkat Pembelajaran (Silabus,
RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi), yang
mana ini sebagai tugas dari mata kuliah Magang 1.
Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran adalah
kumpulan alat (bantu) yang digunakan guru agar kegiatan dan kinerja guru lebih
maksimal dalam aktivitas pembelajaran, perangkat ini terdiri dari media,
fasilitas, bahan dan panduan dsb.
perangkat pembelajaran adalah
instrumen atau perlengkapan untuk melakukan kegiatan mendidik siswa. Perangkat
pembelajaran merupakan pedoman guru untuk aktivitas pembelajaran, baik itu di
dalam kelas, luar kelas dan laboratorium. Ini berdasarkan penuturan Zuhdan,
(2012: 17).
Terdapat beberapa perangkat
pembelajaran yang bisa disiapkan agar pembelajaran bisa terlaksana dengan
maksimal. Berikut daftarnya:
1.
Silabus
Silabus
adalah rencana detail mengenai susunan atau urutan mengajar guru yang dibuat
dalam kategori tema atau mata pelajaran tertentu. Elemen dari silabus sendiri
terdiri dari Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Raihan
Kompetensi, Materi/Konten Pembelajaran, Kuota Waktu, Penilaian serta Sumber
Belajar yang dipakai. Silabus juga bisa disebut sebagai rangkuman dari
kurikulum sebab silabus terdiri dari media, target pencapaian dsb.
Elemen
rinci silabus terdiri dari:
a) Batasan
dan misi materi pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik.
b) Tujuan
dan Sasaran dari suatu materi pembelajaran.
c) Keterampilan
yang harus diraih oleh siswa pada setiap mata pelajaran yang disajikan.
d) Rancangan
poin konsep materi yang diberikan kepada siswa.
e) Kegiatan
dan referensi belajar yang menjadi penyokong kesuksesan dalam aktivitas
pembelajaran.
f) Cara
evaluasi yang dipakai dalam pembelajaran.
2.
RPP
Adalah
merupakan singkatan dari rencana pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah tahapan
yang kudu dilalui oleh guru pada aktivitas pembelajaran kepada siswa. RPP
terdiri atas metode, model, instrumen penilaian, pelaksanaan dan evaluasi. Ini
adalah elemen yang terkandung pada RPP:
a)
Indikator/parameter pembelajaran
b)
Kompetensi dasar (KD) dan Standar
kompetensi (SK)
c)
Skenario Pembelajaran
d)
Model Pembelajaran
e)
LKS Lembar Kerja Siswa
f)
Pokok pembahasan
g)
Pengukuran Hasil Belajar
h)
Sumber dan sarana/media/fasilitas dan
Pembelajaran
3.
Media Pembelajaran
Media
berfungsi untuk menghubungkan informasi dari satu pihak ke pihak lain.
Sedangkan dalam dunia pendidikan kata media disebut media pembelajaran. Media
Pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan
pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang
perhatian dan minat siswa untuk belajar. Lebih lanjut, Gagne dan Briggs (1975)
dalam Arsyad (2013:4) secara eksplisit mengatakan bahwa media pembelajaran
mencakup alat-alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi bahan
ajar. Dari kedua pengertian tersebut, media merupakan alat yang digunakan untuk
menyampaikan materi pembelajaran.
Alat
ini dapat berupa alat grafik, visual, elektronik dan audio yang digunakan untuk
mempermudah informasi yang disampaikan kepada siswa. Berdasarkan definisi atau
pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat yang
digunakan dalam proses pembelajaran untuk menyampaikan pesan, ide atau gagasan
berupa bahan ajar kepada siswa oleh guru. Media pembelajaran dapat digunakan
untuk menciptakan kondisi belajar yang nyata. Dengan menggunakan media
pembelajaran, pesan yang abstrak dapat diubah menjadi pesan yang beton.
Misalnya, guru menyampaikan pesan tentang teknik membaca scanning, ketika guru
hanya menjelaskan maka siswa akan kesulitan memahami teknik membaca scan.
Prinsip-Prinsip
Pengembangan Media
Prinsip-prinsip
psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan
media adalah:
a) Memotivasi
siswa dalam belajar,
b) Memahami
perbedaan individu,
c) Sesuai
dengan tujuan pelajaran,
d) Isi
yang terorganisasi,
e) Ketersediaan
siswa dalam belajar,
f) Menumbuhkan
emosi siswa,
g) Menumbuhkan
partisipasi siswa,
h) Memberikan
Umpan balik,
i) Penguatan,
j) Latihan
dan Latihan,
k) Penerapan.
4.
Bahan Ajar
Dari
beberapa sumber buku menyatakan bahwa bahan ajar merupakan suatu bahan/ materi
pelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam
pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Jenis-Jenis Bahan Ajar Dalam
pengelompokannya bahan ajar dibagi menjadi 5 jenis kelompok besar:
a) Bahan
ajar yang tidak diproyeksikan seperti foto, diagram, display, model;
b) Bahan
ajar yang diproyeksikan, seperti slide, filmstrips, overhead transparencies,
proyeksi komputer;
c) Bahan
ajar audio, seperti kaset dan compact disc;
d) Bahan
ajar video, seperti video dan film;
e) Bahan
ajar (media) komputer, misalnya Computer Mediated Instruction (CMI), Computer
based Multimedia atau Hypermedia.
5.
LKS
lembar
kerja siswa (LKS) adalah merupakan salah satu media pendidikan (media cetak)
dengan tujuan untuk mengaktifkan siswa, memungkinkan siswa dapat belajar
sendiri menurut kemampuan dan minatnya, merangsang kegiatan belajar dan juga
merupakan variasi pengajaran agar siswa tidak menjadi bosan. LKS yang digunakan
siswa harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dikerjakan siswa dengan
baik dan dapat memotivasi belajar siswa. Menurut Tim Penatar Provinsi Dati I
Jawa Tengah,hal-hal yang diperlukan dalam penyususunan LKS adalah
a) Buku
pegangan, siswa (buku paket),
b) Mengutamakan
bahan yang penting,
c) Menyesuaikan
tingkat kematangan berfikir siswa.
Manfaat
dan Tujuan Lembar Kerja Siswa (LKS)
Menurut
tim instruktur PKG dalam Sudiati (2003:11-12), manfaat Lembar Kerja Siswa
(LKS), antara lain sebagai alternatif guruuntuk mengarahkan atau memperkenalkan
suatu kegiatan tertentu, dapat mempercepat proses belajar mengajar sehingga
menghemat waktu mengajar, serta dapat mengoptimalkan alat bantu pengajaran yang
terbatas
karena siswa dapat menggunakan alat bantu secara bergantian.
LKS
biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas
yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan
dicapainya.(Depdiknas; 2004;18). Trianto (2008 :148) mendefinisikan bahwa
Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan
penyelidikan dan pemecahan masalah.
Menurut
pengertian di atas maka LKS berwujud lembaran berisi tugas-tugas guru kepada
siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai. Atau dapat dikatakan juga bahwa LKS adalah panduan kerja
siswa untuk mempermudah siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Tujuan
Lembar Kerja Siswa (LKS)
a) Mengaktifkan
siswa dalam proses kegiatan pembelajaran.
b) Membantu
siswa mengembangkan konsep.
c) Melatih
siswa untuk menemukan dan mengembangkan ketrampilan proses.
d) Sebagai pedoman guru dan siswa dalam
melaksanakan proses kegiatan pembelajaran.
e) Membantu
siswa dalam memperoleh informasi tentang konsep yang dipelajari melalui proses
kegiatan pembelajaran secara sistematis.
f) Membantu
siswa dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari melalui kegiatan
pembelajaran (Achmadi:1996:35)
Kegunaan Lembar Kerja
Siswa (LKS)
a) Memberikan
pengalaman kongkret bagi siswa.
b) Membantu
variasi belajar.
c) Membangkitkan
minat siswa.
d) Meningkatkan
retensi belajar mengajar.
e) Memanfaatkan
waktu secara efektif dan efisien (Hadi Sukamto, 1992/1993:2)
6.
Perangkat Evaluasi
Menurut
Kunandar (2014: 35) bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data
yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik”. Penilaian
hasil belajar peserta didik merupakan sesuatu yang sangat penting dan strategis
dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan penilaian hasil belajar maka dapat
diketahui seberapa besar keberhasilan peserta didik telah menguasai kompetensi
atau materi yang telah diajarkan oleh guru. Kurikulum 2013 mempertegas adanya
pergeseran dalam melakukan penilaian melalui tes (mengukur kompetensi kemampuan
berdasarkan hasil saja), menuju penilaian autentik (mengukur penilaian sikap,
keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil). Dalam penelitian
ini, penilaian sikap diambil pada saat proses belajar mengajar, penilaian
pengetahuan dan penilaian keterampilan diambil setelah mengerjakan LAS yang
diberikan oleh guru.
mengenai
pengembangan evaluasi pembelajaran dalam struktur Kurikulum 2013 revisi menjadi
poin penting untuk dikuasai oleh pendidik. Idealitas cita-cita Kurikulum 2013
harus diiringi pula dengan kesiapan pendidik dalam melakukan penilaian terhadap
proses belajar peserta didiknya, baik dari aspek sikap, pengetahuan, maupun
keterampilan. Melalui pemahaman serta penguasaan yang baik terhadap evaluasi
ketiga aspek tersebut, maka penilaian pembelajaran akan dapat senantiasa
diupgrade dan dikembangkan sesuai dengan tujuan pendidikan dalam konteks
Kurikulum 2013. Tulisan ini hendak membingkai wacana pengembangan evaluasi
pembelajaran PAI pada dimensi perangkat ajar yang digunakan, sehingga fungsi
pendidikan dalam menilai ketercapaian proses belajar peserta didiknya dapat
dilaksanakan secara maksimal. Oleh karena itu, artikel ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan guna mengurai fokus
tersebut. Sedangkan analisa data digunakan metode content analysis dan
intepretasi. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengembangan perangkat evaluasi
pembelajaran PAI dalam konteks Kurikulum 2013 dapat dilakukan secara sinergis
dengan memanfaatkan aplikasi berbasis teknologi informasi (IT). Melalui
pemanfaatan aplikasi berbasis IT dalam segi teknis-implementatif penilaian
pembelajaran PAI, maka pendidik dapat mengevaluasi domain kognitif, afektif dan
psikomotorik peserta didik secara integral, komprehensif dan maksimal.
Nah, itulah penjelasan mengenai Perangkat
Pembelajaran (Silabus, RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi)
yang dapat saya sampaikan melalui blog
ini. Sekian dari saya, saya ucapkan terima kasih banyak sudah
mengunjungi blogg ini, sampai bertemu di blogg saya selanjutnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
SISTEM
EVALUASI
Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh, apa kabar sahabat blogger, semoga selalu dalam keadaan baik-baik
aja ya, apalagi di masa sekarang ini, kita harus menjaga kesehatan dan stamina
kita.
Baiklah, pada kesempatan kali ini,
saya akan menjelaskan hasil dari bahan bacaan mengenai Sistem Evaluasi. Apa-apa
saja yang ada dan yang berkaitan dengan sistem evaluasi. Nah untuk itu, saya
akan menjelaskan hasil bacaan saya di blog saya kali ni.
Baik, tanpa menunggu waktu yang lama,
yuk simak dan baca blog saya di bawah ini :
Pengertian
Sistem Pendidikan
Evaluasi merupakan proses yang harus dilaksanakan
untuk mengetahui tingkat target pencapaian kinerja maupun dalam upaya peningkatan
mutu suatu organisasi. Sekolah sebagai suatu organisasi juga perlu melaksanakan
suatu sistem evaluasi. Dengan tujuan mengetahui tingkat pencapaian kinerja sekolah
yang nantinya akan digunakan dalam proses perencanaan sekolah dan siklus pengembangan
mutu sekolah. Evaluasi dalam pendidikan terjadi proses belajar mengajar yang
sistematis, yangterdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran
tidak bersifat terpisah atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan
secara teratur, saling bergantung dan berkesinambungan. Proses belajar mengajar
pada dasarnya adalah interaksi yang terjadi antara guru dan siswa untuk mencapai
tujuan pendidikan. Sedangkan sistem dapat diartikan sebagai sekumpulan elemen
yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Beberapa
Istilah Evaluasi Pendidikan
Tes, adalah istilah yang paling
sempit pengertiannya dari keempat istilah lainnya, yaitu membuat dan mengajukan
sejumlah pertanyaan yang harus dijawab. Sebagai hasil jawabannya diperoleh
sebuah ukuran (nilai angka) dari seseorang.
Pengukuran, pengertiannya menjadi
lebih luas, yakni dengan menggunakan observasi skala rating atau alat lain yang
membuat kita dapat memperoleh informasi dalam bentuk kuantitas. Juga berarti
pengukuran dengan berdasarkan pada skor yang diperoleh.
Evaluasi, adalah proses penggambaran
dan penyempurnaan informasi yang berguna untuk menetapkan alternatif. Evaluasi
bisa mencakup arti tes dan pengukuran dan bisa juga berarti di luar keduanya.
Hasil Evaluasi bisa memberi keputusan yang profesional. Seseorang dapat
mengevaluasi baik dengan data kuantitatif maupun kualitatif.
Asesmen, bisa digunakan untuk
memberikan diagnosa terhadap problema seseorang. Dalam pengertian ia adalah
sinonim dengan evaluasi. Namun yang perlu ditekankan di sini bahwa yang dapat
dinilai atau dievaluasi adalah karakter dari seseorang, termasuk kemampuan
akademik, kejujuran, kemampuan untuk mengejar, dsb.
Nah adapaun Kedudukan Evaluasi Dalam
Pembelajaran, yakni dapat merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat 1 yang
menyatakan bahwa “evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan
secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada
pihak-pihak berkepentingan, di antaranya terhadap peserta didik, lembaga dan
program pendidikan”.
Sehingga kedudukan evaluasi
pendidikan mencakup semua komponen, proses pelaksanaan dan produk pendidikan
secara total, dan di dalamnya setidaknya terakomodir tiga konsep, yakni:
memberikan pertimbangan (judgement), nilai (value), dan arti (worth).
Tujuan
Evaluasi Pembelajaran
Adapun
tujuan Evaluasi Pembelajaran menurut
Nana Sudjana (2017, hlm. 4) adalah sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan
kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan
kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
2) Mengetahui
keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh
keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan
yang diharapkan.
3) Menentukan
tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan
dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
4) Memberikan
pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Prinsip Evaluasi
Dalam
Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan pasal 5,
dijelaskan bahwa prinsip evaluasi atau penilaian hasil belajar antara lain
adalah sebagai berikut.
1) Sahih,
yang berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang
diukur.
2) Objektif,
berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
dipengaruhi subjektivitas penilai.
3) Adil,
berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4) Terpadu,
berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari
kegiatan pembelajaran.
5) Terbuka,
berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan
dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6) Menyeluruh
dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan
menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai
perkembangan kemampuan peserta didik.
7) Sistematis,
berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti
langkah-langkah baku.
8) Beracuan
kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang
ditetapkan.
9) Akuntabel,
berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segimekanisme,
prosedur, teknik, teknik, maupun hasilnya.
Jenis Evaluasi dalam Pembelajaran
Membicarakan
jenis evaluasi sebetulnya sangatlah bergantung dari pembeda atau dikotomi apa
yang digunakan dalam membedakan jenisnya. Namun, pada umumnya evaluasi dalam
pembelajaran biasa dibagi dari segi teknik terlebih dahulu. Kemudian,
masing-masing teknik akan memiliki penilaian dan alat penilaian yang berbeda
pula. Menurut (Arikunto, 2016, hlm. 41) Teknik evaluasi dibagi menjadi dua,
yakni teknik tes dan teknik non-tes. Berikut adalah penjelasannya.
1.
Evaluasi
Tes
Tes
merupakan suatu alat pengumpul informasi, tetapi jika dibandingkan dengan
alat-alat yang lain, tes bersifat lebih resmi karena penuh dengan
batasanbatasan. Tes mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk mengukur peserta didik
dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran.
Menurut
Heaton (dalam Arifin, 2017, hlm. 118) membagi tes menjadi empat bagian, yakni
tes prestasi belajar, tes penguasaan, tes bakat, dan tes diagnostik. Untuk
melengkapi pembagian jenis tes tersebut, Brown menambahkan satu jenis tes lagi
yang disebut tes penempatan. Masing-masing penjelasan mengenai jenis tes
tersebut sama saja dengan penjelasan fungsi evaluasi yang telah dijelaskan
sebelumnya di atas. Evaluasi jenis tes sendiri dapat dibagi setidaknya menjadi
dua jenis, yakni: tes uraian (esai), dan tes objektif. Berikut adalah
pemaparannya.
a) Tes
Bentuk Uraian (Esai). Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik
untuk menguraikan, mengorganisasikan dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya
sendiri dalam bentuk, teknik, dan gaya yang berbeda satu dengan lainnya.
Dilihat dari luas atau sempitnya materi yang dinyatakan, bentuk tes uraian
dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni sebagai berikut.
b) Uraian
Terbatas. Dalam menjawab soal bentuk uraian terbatas ini, peserta didik harus
mengemukakan hal-hal tertentu sebagai batas-batasnya. Walaupun kalimat jawaban
peserta didik itu beraneka ragam, tetap harus ada pokok-pokok penting yang
terdapat dalam sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah
ditentukan dan dikehendaki dalam soalnya.
c) Uraian
Bebas. Peserta didik bebas untuk menjawab soal dengan cara dan sistematika
sendiri. Peserta didik bebas mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuannya.
Oleh karena itu, setiap peserta didik mempunyai cara dan sistematika yang
berbeda-beda. Namun, guru tetap harus mempunyai acuan dan patokan dalam
mengoreksi jawaban peserta didik nanti.\
d) Tes
Objektif. Tes objektif adalah pengukuran yang berdasarkan pada penilaian atas
kemampuan siswa dengan soal menjelaskan jawaban yang benar atau yang salah soal
dengan bobot nilai yang tetap. Dalam tes ini subjektivitas guru ketika
melakukan pemberian nilai tidak ikut ambil bagian atau ikut berpengaruh.
Terdapat beragam macam tes objektif meliputi beberapa jenis di bawah ini.
e) Tes
Pilihan Alternatif. Bentuk tes pilihan alternatif ditandai oleh butir soal yang
diikuti oleh dua penilaian. Dari dua pilihan siswa diminta memilih salah satu
yang dianggap paling tepat.
f) Tes
Pilihan Ganda. Tes jenis pilihan ganda adalah suatu bentuk tes dengan jawaban
tersedia atas 3 atau 4 serta option pilihannya dan hanya satu jawaban yang
tepat.
g) Tes
Objektif Menjodohkan. Soal bentuk menjodohkan atau memasangkan terdiri dari
suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban, dan suatu petunjuk untuk
menjodohkan masing-masing premis itu dengan suatu kemungkinan jawaban. Biasanya
nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan
sejenisnya digunakan sebagai premis.
h) Tes
Bentuk Benar atau Salah. Benar Tes benar salah ditekankan mengandung atau
tidaknya kebenaran dalam pernyataan yang hendak dinilai peserta didik. Peseta
didik menjawab dengan menetapkan apakah pernyataan yang disajikan itu salah
atau benar dalam arti mengandung atau tidak mengandung kebenaran.
2.
Evaluasi
Non Tes
Menurut
Hasyim (dalam Zein & Darto, 2012, hlm.47) evaluasi non test adalah
penilaian yang mengukur kemampuan peserta didik secara langsung dengan
tugas-tugas yang riil. Evaluasi non tes memiliki sifat yang lebih komprehensif,
artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu sehingga
tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan
psikomotorik, yang dinilai saat proses pelajaran berlangsung (Sudjana. 2017,
hlm. 67). Beberapa jenis evaluasi non tes menurut Arikunto (2016, hlm. 41)
adalah sebagai berikut.
a) Skala
Bertingkat. Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap
sesuatu hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan “Rating gives a
numerical value to some kind of judgement” maka suatu skala selalu disajikan
dalam bentuk angka.
b) Angket.
Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan
diukur (responden). Angket merupakan instrumen evaluasi nontes yang berupaya
mengukur diranah afektif di dalam kelas maupun diluar kelas.
c) Daftar
Cocok. Yakni deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), dimana
responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok (√ ) ditempat yang
sudah disediakan.
d) Wawancara.
Merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden
dengan cara tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena dalam wawancara ini
responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan.
e) Pengamatan
atau Observasi. Pengamatan atau observasi adalah teknik penilaian yang
dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan indra secara langsung. Pengamatan
atau observasi merupaka suatu kegiatan yang dilakukan untuk melihat sejauh mana
pelaksanaan suatu tindakan telah dilaksanakan dan untuk mengevaluasi ketepatan
tindakan yang dilakukan. Pengamatan dilakukan dengan cara menggunakan instrumen
(formulir) yang sudah dirancang sebelumnya.
Nah,
itulah penjelasan mengenai Sistem Evaluasi yang dapat saya sampaikan melalui
blog ini. Sekian dari saya, saya ucapkan
terima kasih banyak sudah mengunjungi blogg ini, sampai bertemu di blogg saya
selanjutnya.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
STRATEGI PEMBELAJARAN
Bismillahirrahmanirrahim….
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Apa kabar sahabat bloger,
alhamdulillah pada kesempatan kali ini, saya masih bisa menyapa sahabat sekalian
walapun hanya melalui blog ini. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan
menjelaskan mengenai Strategi Pembelajaran, yang mana salah satu tugas dari mata kuliah
Magang 1.
Pada kesempatan kali ini, saya akan
menyampaikan apa-apa saja yang ada pada Strategi Pembelajaran. Nah tanpa menunggu
lama-lama, yuk simak penjelasannya berikut ini
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran
adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lengkungan belajar (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional). Intinya adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar. Dengan
kata lain, pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi
kegiatan belajar. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak
menghasilkan kegiatan belajar pada para peserta didiknya. Kegiatan belajar
hanya bisa berhasil jika peserta didik belajar secara aktif mengalami sendiri
proses belajar. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman
belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta
didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam
rangka pencapaian kompetensi dasar (BSNP, 2006). Pengalaman belajar yang dimaksud
dapat terwujud melalui penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi dan
berpusat pada peserta didik (student centred). Pengalaman belajar memuat
kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Strategi
identik dengan teknik, siasat atau kiat, namun apabila digabungkan dengan kata
pembelajaran (strategi pembelajaran) dapat dipahami sebagai suatu cara atau
seperangkat cara atau teknik yang dilakukan oleh seorang guru atau peserta
didik dalam mengupayakan terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap.
Oleh karena itu, strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran
yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat
dicapai secara efektif dan efisien (Kemp, 1995).
Strategi
pembelajaran adalah pendekatan suatu individu atau kelompok untuk menyelesaikan
tugas (masalah). Lebih khusus, strategi pembelajaran adalah cara individu atau
lembaga pendidikan untuk mengorganisir dan menggunakan beberapa alat metode, taktik, model dan keterampilan
tertentu untuk mempelajari konten lalu menyelesaikan daftar tugas yang ada,
secara efektif dan efisien di sekolah serta di lingkungan non-akademik. Jadi
strategi pembelajaran adalah sebuah ide dan rencana yang berisi susunan
aktivitas belajar guru dan siswa yang diimplementasikan berdasarkan kompetensi
yang sudah ditetapkan untuk memperoleh tujuan pendidikan. Berikut ini adalah aplikasi strategi pembelajaran
yang mencakup empat aspek, yaitu sebagai berikut:
a) Urutan
kegiatan pembelajaran, yang berisikan urutan kegiatan guru dalam menyampaikan
materi atau isi pelajaran kepada peserta didik.
b) Metode
pembelajaran, yaitu cara guru mengorganisasikan materi pelajaran dan peserta
didik agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien.
c) Media
pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan guru dan
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
d) Waktu
yang digunakan guru dan peserta didik untuk menyelesaikan setiap langkah dalam
kegiatan pembelajaran.
Dalam
realitasnya, pembelajaran di sekolah masih banyak guru yang menggunakan
strategi pembelajaran untuk menghabiskan materi pembelajaran sehingga kurang
memberi makna bagi peserta didik. Oleh karena itu, agar aktivitas pembelajaran
mampu memberikan makna bagi peserta didik yang belajar, guru perlu
mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengkaitkan materi pelajaran
dengan kehidupan peserta didik sehari-hari.
Akhirnya, pentingnya strategi pembelajaran adalah untuk menentukan semua langkah dan kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga dapat memberi pengalaman belajar kepada peserta didik. Jadi strategi pembelajaran adalah keputusan guru dalam menetapkan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, sarana dan prasarana yang akan digunakan, termasuk jenis media yang digunakan, materi yang diberikan, dan metodologi yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Diharapkan peserta didik dapat mendapatkan pengalaman yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, strategi pembelajaran adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh guru (seperti metode, sarana dan prasarana, materi, media, dan sebagainya) agar peserta didik difasilitasi (dipermudah) dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.
Komponen
Strategi Pembelajaran
Strategi
pembelajaran terdiri dari lima komponen utama, yaitu: (a) urutan kegiatan
pembelajaran, (b) metode, (c) media, dan (d) waktu (Suparman, 2004). Sedangkan
urutan kegiatan pembelajaran secara umum terdiri dari tahap, yaitu:
a) Pendahuluan
(introduction)
Pada
tahap awal atau persiapan, kegiatan dimaksudkan untuk mempersiapkan mental
peserta didik dalam mempelajari pengetahuan, keterampilan dan sikap baru.
Artinya guru sebaiknya mempersiapkan peserta didik agar memperhatikan dan
belajar secara sungguh-sungguh selama tahap penyajian. Tujuan kegiatan pada
tahap pendahuluan ini untuk:
1. memberikan
motivasi dan memusatkan perhatian peserta didik agar mereka bisa mempersiapkan
diri untuk menerima pelajaran dan
2. mengetahui
kemampuan peserta didik atau apa yang telah dikuasai peserta didik sebelumnya
dan berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.
Hal-hal yang dilakukan
pada tahap ini adalah memberikan gambaran singkat tentang isi pelajaran,
menjelaskan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman peserta didik, dan menjelaskan
tentang tujuan pembelajaran.
b) Penyajian
(presentation)
Tahap
penyajian merupakan proses pembelajaran yang utama atau inti dari kegiatan
pembelajaran. Tahap ini meliputi bagian-bagian sebagai berikut:
1. Uraian
(explanation) adalah penjelasan tentang materi pelajaran atau konsep, prinsip, dan
prosedur yang akan dipelajari.
2. Contoh
(example) dan non contoh (non example) adalah benda atau kegiatan yang ada di sekitar
peserta didik sebagai wujud materi pelajaran yang sedang diuraikan, baik
bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, guru perlu memberikan contoh
dan non contoh yang praktis dan kongkrit dari uraian konsep yang masih abstrak
agar menjadi jelas bagi peserta didik.
3. Latihan
(exercise) adalah kegiatan praktik bagi peserta didik untuk menerapkan konsep, prinsip
atau prosedur yang masih abstrak sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Dengan
latihan, peserta didik akan belajar aktif sehingga mudah menguasai materi yang
sedang dipelajari peserta didik.
c) Penutup
(test and follow up)
Kegiatan
pada tahap penutup merupakan kegiatan akhir dalam urutan kegiatan pembelajaran.
Tujuan dari kegiatan tahap penutup adalah untuk memberikan penegasan atau kesimpulan
dan penilaian terhadap penguasaan materi pelajaran yang telah diberikan, baik
tes formatif dan umpan balik (follow up). Selanjutnya adalah kegiatan tidak
lanjut. Kegiatan akhir pembelajaran yang mencakup:
1. Pelaksanaan
tes hasil belajar untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik. Tes ini sering
disebut sebagai tes formatif yang dapat diberikan secara lisan atau tertulis.
2. Umpan
balik (feedback) adalah informasi hasil tes peserta didik dan diikuti dengan
penjelasan kemajuan peserta didik. Hal ini penting bagi peserta didik agar proses
pembelajaran menjadi efektif, efisien dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan
umpan balik sangat berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
3. Tindak
lanjut (follow up) adalah berupa petunjuk tentang apa yang harus dilakukan
peserta didik setelah mengikuti tes formatif dan mendapatkan umpan balik.
Maksudnya peserta didik yang memperoleh hasil tes formatif kurang harus mempelajari
ulang materi tersebut. Sedangkan peserta didik yang sudah memperoleh nilai baik
tes formatif bisa meneruskan ke materi selanjutnya, baik untuk memperdalam
materi atau untuk mempersiapkan materi yang akan datang. Namun, perlu diingat
bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pemberian tanda atau bantuan
Strategi
Pembelajaran Menurut Para Ahli
Agar bisa lebih paham tentang
strategi pembelajaran, kami akan menghadirkan beberapa pengertian strategi
pembelajaran dari para ahli, berikut beberapa pengertian, definisi dan artinya:
1) Kemp
(1995). Mengutarakan tentang strategi pembelajaran, yakni aktivitas
pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa untuk memenuhi misi pembelajaran
yang efisien dan efektif.
2) Egger
Kauchak dan Harder. Strategi pembelajaran adalah macam-macam cara belajar dan
mengajar yang dirancang untuk memenuhi sasaran yang spesifik.
3) Gilistrap
Martin. Mengungkapkan bahwa strategi pembelajaran adalah formula keterampilan
yang digunakan guru untuk membantu siswa agar bisa memenuhi tujuan belajar yang
telah ditetapkan.
4) Syaiful
Bahri dan Aswan Zain (1995). Beliau mengungkapkan bahwa sistem acuan yang
mendasari aktivitas siswa ketika melaksanakan belajar mengajar agar bisa menuju
tujuan yang sudah ditentukan.
5) Sanjaya,
Wina (2007). Merupakan format yang dapat diterapkan guru dan siswa dalam meraih
aktivitas belajar dan mengajar yang ideal. Karakter dari format yang bisa
dilakukan adalah semacam rangkaian aktivitas yang dapat berdampak pada
tercapainya tujuan belajar.
6) Kozma
(Sanjaya, 2007). Merupakan sesuatu yang bisa memberi dampak kepada siswa untuk
bisa memperoleh tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
7) Suparman
(1997:157). Adalah rangkaian aktivitas guru dan siswa untuk mengatur materi dan
fasilitas yang dipakai, agar belajar mengajar bisa terpenuhi dan bisa meraih
tujuan pembelajaran.
Macam-Macam Strategi Pembelajaran
Berikut merupakan jenis dan macam
strategi pembelajaran yang wajib diketahui oleh guru. Strategi ini dilandasi
oleh penuturan Sanjaya (2007 : 177 – 286):
a) Kontekstual
CTL
b) Berbasis
Masalah
c) Kooperatif
d) Ekspositori
e) Inquiry
f) Afektif
g) Peningkatan
Kemampuan Berpikir
Manfaat dan Tujuan
Manfaat dari strategi pembelajaran
pada aktivitas belajar itu sendiri adalah, waktu siswa untuk meraih materi yang
sesuai dengan standar kompetensi bisa menjadi lebih efisien. Dan yang paling
penting adalah guru bisa mempunyai gambaran tentang apa yang harus dilakukan
dan tidak dilakukan saat kegiatan belajar.
Guru juga bisa lebih matang saat
menghadapi siswa dengan latar belakang yang berbeda. Karena mau tidak mau
setiap siswa pasti mempunyai kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda,
mulai dari perbedaan ras, ekonomi, agama dan motivasi belajar. Hal tersebutlah
yang mengharuskan guru bisa menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif.
Implementasi atau Penerapan
Pada tahap awal guru harus bisa
mempresentasikan dengan bagus mengenai tujuan pembelajaran. Ini bertujuan agar
siswa bisa tertarik dan termotivasi.
Saat guru menerangkan tentang tujuan
pembelajaran siswa didorong untuk memperhatikan agar hubungan antara
pengetahuan lama dan baru bisa terkoneksi. Tingkatkan kemampuan siswa dalam
memahami bacaan, ajari mereka cara membaca dengan waktu yang singkat namun
tetap nyantol. Mendengarkan dan partisipasi, kembangkan cara siswa dalam
mendengar, serta minta siswa untuk berpartisipasi lebih dalam pembelajaran
(aktif).
Berlandaskan teori student centered,
bisa dikatakan bahwa siswa adalah pusat utama dari aktivitas belajar. Maka dari
itu ajari siswa untuk mencatat yang efektif, di mana bisa digunakan untuk
membantu teman dan diri sendiri dalam belajar. Pada proses edukasi biasanya
terdapat aktivitas tanya jawab (feedback). Proses ini sering dilaksanakan pada
akhir pembelajaran. Berhubungan dengan memori & retensi, buat agar siswa
bisa tetap termotivasi dalam pembelajaran sehingga ingatan mengenai materi bisa
lebih kuat. Selanjutnya proses pelajaran tahap lanjut biasanya adalah melakukan
kesimpulan dan evaluasi. Guru akan menginformasikan tentang cara menilai siswa.
Nah, itulah penjelasan mengenai Strategi Pembelajaran yang dapat saya sampaikan melalui blog ini. Sekian dari saya, saya ucapkan terima kasih banyak sudah mengunjungi blogg ini, sampai bertemu di blogg saya selanjutnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Referensi :
Warsita, Bambang. "STRATEGI PEMBELAJARAN DAN
IMPLIKASINYA PADA PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN." Jurnal Teknodik
13.1 (2018): 064-076.